Jakarta – Memasuki bulan Dzulhijjah umat muslim kembali diingatkan kepada sosok Nabi Ibrahim, nabi yang dikenal dengan sifat hanif atau lurus. Beliau memberikan teladan kurban yang paling agung. Pengabdian kepada Sang Khalik, melepaskan dirinya dari cinta dunia dan egoisme. Beliau menanyakan kesiapan sang putera, Nabi Ismail untuk memenuhi apa yang diyakini sebagai perintah Allah. Sang putera menunjukkan pula kebulatan tekad demi menjunjung pengabdian kepada Allah SWT. Pada perjalanan menjelang eksekusi keduanya mendapatkan godaan yang tidak sedikit. Namun, dengan keteguhan hati mereka berdua melakukan perlawanan terhadap gangguan dan rayuan dengan melemparkan jumrah. Kepasrahan dan keyakinan yang kuat bahwa perintah Allah adalah sabda yang agung, mengantarkan mereka kepada penyelamatan oleh Allah. Peristiwa ini diabadikan sebagai bagian dari ibadah haji yang diikuti oleh umat muslim sampai akhir zaman. Nabi Ibrahim memberi keteladanan dalam kehidupan kita untuk selalu berpijak di atas kebenaran dan tak pernah berpaling meninggalkan Allah. Beliau selalu total dalam mengabdi dan tak pernah lupa mensyukuri segala nikmat-Nya. Kita dapat meneladani beliau dengan ikhlas berkurban dengan kesadaran luhur dalam meningkatkan ketakwaan dan kesalehan sosial. Itulah tonggak keutamaan iman yang tidak pernah usai. Beribadah demi keselamatan sesama dan bangsa. Hanya berharap pahala dan ridha-Nya. Pada bulan penuh makna ini pula jamaah haji menunaikan salah satu ritual yang tidak boleh diabaikan yaitu melempar jumrah. Kata jumrah sendiri artinya adalah tempat pelemparan. Tempat tersebut didirikan untuk memperingati peristiwa saat nabi Ibrahim digoda oleh setan agar beliau menolak perintah Allah, menyembelih putranya Ismail. Tiga kali beliau digoda. Tiga kali pula beliau melontarkan batunya kepada setan. Apa hikmahnya bila dikaitkan dengan situasi terkini di Nusantara ini? Hikmahnya adalah kita semua hendaknya berkurban melempar atau menghalau kesusahan ekonomi. Ibarat melempar jumrah melawan keterpurukan, maka tujuh kemenangan mengorbankan ‘keakuan’ insya Allah diperoleh. Caranya melalui aksi Hasanah yaitu galang kerjasama semua anak bangsa, menjadikan rupiah berdaulat di negeri sendiri, bebas dari kebanggaan semu ketergantungan impor, inovasi berkarya tiada henti, jujur dalam pengabdian, peduli anak yatim dan kaum dhuafa, serta memelihara kelestarian alam. Bagaimana kita dapat melaksanakan tujuh kebaikan Hasanah di atas? Tidak ada jalan lain, kita harus lempar jauh-jauh semua batu sandungan dalam diri kita sendiri. Batu-batu tersebut adalah egois, sombong, tamak, pendengki, tipu muslihat, fitnah dan bohong. Hanya dengan cara itulah kita dapat jadi manusia baru. Insan Indonesia yang ber-Hasanah. Bagi Anda yang berniat ikhlas berkurban, segera hubungi kantor BNI Syariah terdekat, untuk berperan serta. Selamat Idul Adha 1436 H. (ad/

× Ada yang bisa kami bantu?